N99a's Blog

Just another WordPress.com weblog

UjiAn Nasional Penilaian atau Evaluasi????? Desember 10, 2009

Filed under: Kuliah — n99a @ 3:40 PM

Ujian Nasional: Penilaian atau Evaluasi?
Ketidak setujuan berbagai kalangan atas keputusan melaksanakan UN ini seakan tidak mempengaruhi pemerintah untuk tetap melaksanakannya.Padahal jika ditelusuri lebih jauh, kekukuhan pemerintah untuk melaksanakan UN (jika tujuannya dalam rangka mengukur pencapaian Standar Nasional Pendidikan dan menentukan kelulusan peserta didik) menyisakan beberapa kelemahan dan pertentangan antara lain:

Tidak terpenuhinya amanat kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi, bertentangan dengan program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), dan dapat menimbulkan kekeliruan terhadap pemahaman dan penggunaan istilah penilaian dan evaluasi di bidang pendidikan.

Disebut tidak terpenuhi, karena kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi menekankan pada pencapaian kompetensi yang berbasis kebulatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Sementara UN lebih berorientasi pada aspek pengetahuan (karena menjawab soal-soal ujian).

Disebut bertentangan dengan program MBS, karena MBS memberikan otonomi yang luas kepada sekolah dalam mengelola pendidikan, termasuk menentukan kelulusan. Sementara UN ?merampas? otonomi sekolah karena bersifat sentralistik (khususnya dalam penentuan kelulusan peserta didik).

Disebut dapat menimbulkan kekeliruan terhadap pemahaman dan penggunaan istilah penilaian dan evaluasi, karena dengan model UN nantinya istilah penilaian dan evaluasi dapat dimaknai sama. Padahal dari tinjauan penilaian pendidikan kedua istilah tersebut memiliki pengertian dan penggunaan yang berbeda.

***

Penilaian dalam arti luas merupakan komponen yang penting dalam setiap sistem pendidikan. Dalam sistem pendidikan di Indonesia penilaian merupakan sub sistem yang diatur dalam UU No. 20/2003, khususnya pada Bab XVI, pasal 57, 58, 59.

Penilaian disebut komponen yang penting dalam sistem pendidikan karena melalui penilaian, perkembangan dan kemajuan pendidikan (terutama mutu pendidikan) dapat diketahui.

Melalui penilaian dapat juga diketahui tingkat pencapaian prestasi pendidikan baik lingkup sekolah, daerah, maupun wilayah. Sayangnya istilah penilaian penggunaannya sering mengalami kerancuan dengan istilah lain yang juga merupakan istilah dalam lingkup penilaian pendidikan. Istilah-istilah yang dimaksud antara lain: pengukuran, evaluasi, dan pengambilan keputusan.

Keempat istilah tersebut (pengukuran, penilaian, evaluasi, dan pengambilan keputusan) sebenarnya memiliki arti yang sangat berbeda karena tingkat dan konteks penggunaannya.

Pengukuran adalah suatu kegiatan untuk mengetahui informasi atau data secara kuantitatif. Pengukuran tidak melibatkan pertimbangan mengenai baik-buruknya, tidak menentukan siapa yang lulus dan tidak lulus.

Pengukuran hanya membuahkan data kuantitatif mengenai hal yang diukur atau memberikan jawaban terhadap pertanyaan ?how much?. Penilaian adalah kegiatan untuk mengetahui apakah suatu program yang dilaksanakan telah berhasil dan efisien.

Berbeda dengan pengukuran, penilaian adalah kegiatan menentukan nilai suatu objek, seperti baik-buruk, efektif-tidak efektif, berhasil-tidak berhasil, dan semacamnya sesuai dengan kriteria atau tolak ukur yang telah ditetapkan sebelumnya.

Penilaian akan memberikan jawaban terhadap pertanyaan ?what value?. Evaluasi adalah suatu kegiatan atau proses untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam dunia pendidikan seperti program pendidikan termasuk perencanaan suatu program, substansi pendidikan seperti kurikulum, pengadaan dan peningkatan kemampuan guru, pengelolaan pendidikan, dan lain-lain.

Sedangkan pengambilan keputusan adalah suatu tindakan yang diambil oleh seseorang atau lembaga berdasarkan data atau informasi yang telah diperoleh (biasanya didasarkan pada penilaian).

Dari pengertian di atas, jelas terlihat tingkatan yang berbeda dari empat istilah dalam lingkup penilaian pendidikan. Penilaian memerlukan data, yang salah satu sumbernya adalah hasil pengukuran.

Meskipun penilaian tetap dapat dilakukan tanpa didahului oleh kegiatan pengukuran. Penilaian juga sering diartikan sama dengan evaluasi. Padahal istilah penilaian bukan alih-bahasa dari istilah evaluation.

Penilaian adalah alih-bahasa dari istilah assessment. Meski demikian, kedua istilah ini (penilaian/assessment dan evaluasi/evaluation) sebenarnya memiliki persamaan dan perbedaan.

Persamaannya adalah keduanya mempunyai pengertian penilaian atau menentukan nilai sesuatu. Sementara perbedaannya terletak pada konteks penggunaannya. Penilaian digunakan dalam konteks yang lebih sempit dan biasanya dilaksanakan secara internal.

Sementara evaluasi digunakan dalam konteks yang lebih luas dan biasanya dilaksanakan secara eksternal. Dalam hal pengambilan keputusan, penilaian, dan evaluasi diperlukan. Tetapi hasil penilaian dan evaluasi tidaklah selalu menjadi (apalagi sebagai satu-satunya) landasan bagi pengambilan keputusan.

Hal ini disebabkan pengambilan keputusan biasanya merupakan fungsi dari perhitungan tentang hasil dan risiko dari tindakan atau keputusan tersebut.

Pertanyaan yang perlu dijawab untuk memahami UN dalam kaitannya dengan istilah penilaian dan evaluasi adalah: ?Apakah UN yang akan diselenggarakan tahun 2005 ini tergolong penilaian atau evaluasi??

Jawabannya, jika merujuk pada pengertian penilaian dan evaluasi yang telah dikemukakan sebelumnya, maka UN tidak tergolong penilaian dan juga tidak tergolong evaluasi. Ada tiga alasan untuk menyatakan bahwa UN tidak tergolong penilaian.

Pertama, untuk menyatakan bahwa UN adalah penilaian, maka kegiatan ujian itu dilaksanakan dalam konteks yang lebih sempit dan biasanya dilaksanakan secara internal, yakni oleh orang-orang yang menjadi bagian atau terlibat dalam sistem yang bersangkutan, seperti guru menilai hasil belajar siswanya, atau pengawas menilai guru.

Baik guru maupun pengawas adalah orang-orang yang menjadi bagian dari sistem pendidikan. Hal ini tidak terdapat pada penyelenggaraan UN, karena ujian ini dilaksanakan dalam konteks yang lebih luas dan berskala makro (nasional).

Kedua, untuk mengatakan bahwa UN adalah penilaian, maka UN itu harus memenuhi empat unsur pokok penilaian, yaitu: 1) objek yang dinilai; 2) kriteria sebagai tolak ukur; 3) data tentang objek yang dinilai; dan 4) pertimbangan keputusan (judgement).

Dari keempat unsur pokok ini, nampaknya UN hanya memenuhi tiga unsur, yaitu objek yang dinilai (siswa), kriteria keputusan (standar kelulusan 4,25), dan pertimbangan keputusan (lulus atau tidak).

Sementara unsur pokok penilaian yaitu data tentang objek yang dinilai seperti perilaku atau penampilan siswa selama mengikuti pelajaran, hasil ulangan harian atau tugas-tugas (individu dan kelompok), nilai ujian sumatif, nilai ujian semester, dan sebagainya tidak dipenuhi oleh UN, karena hanya berpatokan pada hasil ujian akhir.

Ketiga, jika merujuk pada alasan kedua, maka disamping tidak memenuhi unsur pokok penilaian, UN juga bertentangan dengan unsur pokok penilaian itu sendiri. Hal ini nampak ketika pengambilan keputusan (seperti lulus atau tidak) maka perlu ada data yang memadai tentang objek yang dinilai, sementara UN hanya berpatokan pada data hasil ujian akhir saja.

Artinya dasar pengambilan keputusan tentang lulus tidaknya seorang siswa tidak memadai dan tidak memperhitungkan berbagai aspek.

Sementara jawaban yang menyatakan bahwa UN tidak termasuk evaluasi, juga didasari oleh tiga alasan. Pertama, untuk menyatakan bahwa UN adalah evaluasi, maka evaluasi itu dilaksanakan secara eksternal, artinya evaluasi itu harus dilakukan oleh lembaga yang independen di luar pemerintah. Hal ini tidak dilakukan dalam UN, karena yang bertindak sebagai evaluator adalah pemerintah yang notabene adalah lembaga internal.

Kedua, untuk mengatakan bahwa UN adalah evaluasi, maka sebelum melaksanakan evaluasi terlebih dahulu harus ada Standar Nasional Pendidikan. Standar Nasional Pendidikan ini diperlukan sebagai acuan untuk menilai pencapaian standar tersebut. Masalahnya, Standar Nasional Pendidikan yang dimaksud belum ditetapkan oleh pemerintah.

Ketiga, untuk mengatakan bahwa UN adalah evaluasi, maka ujian ini tidak menentukan kelulusan siswa tetapi hanya untuk mengukur pencapaian Standar Nasional (meski sampai sekarang belum ada). Lalu bagaimana menyebut UN sebagai evaluasi kalau di dalamnya terdapat hal penentuan kelulusan yang sebenarnya menjadi ranah dari penilaian.

Dengan mempertimbangkan berbagai alasan bahwa UN bukan penilaian dan juga bukan evaluasi, maka kesimpulan yang dapat dikemukakan bahwa UN yang akan dilaksanakan tahun 2005 ini adalah hanya semacam tes hasil belajar yang selama ini sering dilakukan oleh guru terhadap siswanya.

Perbedaannya adalah bahwa tes yang dilaksanakan oleh guru dalam lingkup yang terbatas, terus-menerus menyeluruh, dan beberapa kali dalam setahun, sementara UN adalah tes yang dilakukan pemerintah dalam lingkup yang lebih luas (skala nasional) dan dilaksanakan sekali dalam setahun.

Jadi jangan mengharapkan hasil yang lebih banyak dari pelaksanaan UN dengan model seperti ini, kecuali sekadar kesan rutinitas tahunan pemerintah untuk menunjukkan kepeduliannya yang ?setengah hati? bagi dunia pendidikan.

(http://.fajar.co.id/news.php?newsid=2961)

KONSEP DASAR EVALUASI

A. Pengertian Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi
Wiersma dan Jurs membedakan antara evaluasi, pengukuran dan testing. Mereka berpendapat bahwa evaluasi adalah suatu proses yang mencakup pengukuran dan mungkin juga testing, yang juga berisi pengambilan keputusan tentang nilai. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Arikunto yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai. Kedua pendapat di atas secara implisit menyatakan bahwa evaluasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada pengukuran dan testing.
Ralph W. Tyler, yang dikutif oleh Brinkerhoff dkk. Mendefinisikan evaluasi sedikit berbeda. Ia menyatakan bahwa evaluation as the process of determining to what extent the educational objectives are actually being realized. Sementara Daniel Stufflebeam (1971) yang dikutip oleh Nana Syaodih S., menyatakan bahwa evaluation is the process of delinating, obtaining and providing useful information for judging decision alternatif. Demikian juga dengan Michael Scriven (1969) menyatakan evaluation is an observed value compared to some standard. Beberapa definisi terakhir ini menyoroti evaluasi sebagai sarana untuk mendapatkan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan dan pengolahan data.
Sementara itu Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan pengukuran sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas, sedangkan penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto yang membedakan antara pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Arikunto menyatakan bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif. Hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif juga dikemukakan oleh Norman E. Gronlund (1971) yang menyatakan “Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil behavior”
Pengertian penilaian yang ditekankan pada penentuan nilai suatu obyek juga dikemukakan oleh Nana Sudjana. Ia menyatakan bahwa penilaian adalah proses menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau kriteria tertentu, seperti Baik , Sedang, Jelek. Seperti juga halnya yang dikemukakan oleh Richard H. Lindeman (1967) “The assignment of one or a set of numbers to each of a set of person or objects according to certain established rules”

B. Tujuan Evaluasi
Sebagaimana diuraikan pada bagian terdahulu bahwa evaluasi dilaksanakan dengan berbagai tujuan. Khusus terkait dengan pembelajaran, evaluasi dilaksanakan dengan tujuan:
1. Mendeskripsikan kemampuan belajar siswa.
2. mengetahui tingkat keberhasilan PBM
3. menentukan tindak lanjut hasil penilaian
4. memberikan pertanggung jawaban (accountability)

C. Fungsi Evaluasi
Sejalan dengan tujuan evaluasi di atas, evaluasi yang dilakukan juga memiliki banyak fungsi, diantaranya adalah fungsi:
1. Selektif
2. Diagnostik
3. Penempatan
4. Pengukur keberhasilan
Selain keempat fungsi di atas Asmawi Zainul dan Noehi Nasution menyatakan masih ada fungsi-fungsi lain dari evaluasi pembelajaran, yaitu fungsi:
1. Remedial
2. Umpan balik
3. Memotivasi dan membimbing anak
4. Perbaikan kurikulum dan program pendidikan
5. Pengembangan ilmu

D. Manfaat Evaluasi
Secara umum manfaat yang dapat diambil dari kegiatan evaluasi dalam pembelajaran, yaitu :
1. Memahami sesuatu : mahasiswa (entry behavior, motivasi, dll), sarana dan prasarana, dan kondisi dosen
2. Membuat keputusan : kelanjutan program, penanganan “masalah”, dll
3. Meningkatkan kualitas PBM : komponen-komponen PBM
Sementara secara lebih khusus evaluasi akan memberi manfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran, seperti siswa, guru, dan kepala sekolah.
Bagi Siswa
Mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran : Memuaskan atau tidak memuaskan
Bagi Guru
1. mendeteksi siswa yang telah dan belum menguasai tujuan : melanjutkan, remedial atau pengayaan
2. ketepatan materi yang diberikan : jenis, lingkup, tingkat kesulitan, dll.
3. ketepatan metode yang digunakan
Bagi Sekolah
1. hasil belajar cermin kualitas sekolah
2. membuat program sekolah
3. pemenuhan standar

E. Macam-macam Evaluasi
1. Formatif
Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan / topik, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung, agar siswa dan guru memperoleh informasi (feedback) mengenai kemajuan yang telah dicapai. Sementara Tesmer menyatakan formative evaluation is a judgement of the strengths and weakness of instruction in its developing stages, for purpose of revising the instruction to improve its effectiveness and appeal. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengontrol sampai seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut. Wiersma menyatakan formative testing is done to monitor student progress over period of time. Ukuran keberhasilan atau kemajuan siswa dalam evaluasi ini adalah penguasaan kemampuan yang telah dirumuskan dalam rumusan tujuan (TIK) yang telah ditetapkan sebelumnya. TIK yang akan dicapai pada setiap pembahasan suatu pokok bahasan, dirumuskan dengan mengacu pada tingkat kematangan siswa. Artinya TIK dirumuskan dengan memperhatikan kemampuan awal anak dan tingkat kesulitan yang wajar yang diperkiran masih sangat mungkin dijangkau/ dikuasai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Dengan kata lain evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil maka akan diberikan remedial, yaitu bantuan khusus yang diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan memahami suatu pokok bahasan tertentu. Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik berikutnya, bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan pengayaan, yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan pendalaman dari topik yang telah dibahas.
2. Sumatif
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya. Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu, yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester, bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi.
3. Diagnostik
Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat. Evaluasi diagnostik dapat dilakukan dalam beberapa tahapan, baik pada tahap awal, selama proses, maupun akhir pembelajaran. Pada tahap awal dilakukan terhadap calon siswa sebagai input. Dalam hal ini evaluasi diagnostik dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai oleh siswa. Pada tahap proses evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui bahan-bahan pelajaran mana yang masih belum dikuasai dengan baik, sehingga guru dapat memberi bantuan secara dini agar siswa tidak tertinggal terlalu jauh. Sementara pada tahap akhir evaluasi diagnostik ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atas seluruh materi yang telah dipelajarinya.
Perbandingan Tes Diagnostik, Tes Formatif, dan Tes Sumatif
Ditinjau dari Tes Diagnostik Tes Formatif Tes Sumatif
Fungsinya mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya
menentukan kesulitan belajar yang dialami Umpan balik bagi siswa, guru maupun program untuk menilai pelaksanaan suatu unit program Memberi tanda telah mengikuti suatu program, dan menentukan posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan anggota kelompoknya
cara memilih tujuan yang dievaluasi memilih tiap-tiap keterampilan prasarat
memilih tujuan setiap program pembelajaran secara berimbang
memilih yang berhubungan dengan tingkah laku fisik, mental dan perasaan Mengukur semua tujuan instruksional khusus Mengukur tujuan instruksional umum
Skoring (cara menyekor) menggunakan standar mutlak dan relatif menggunakan standar mutlak menggunakan standar relatif

F. Prinsip Evaluasi
Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan evaluasi, agar mendapat informasi yang akurat, diantaranya:
1. Dirancang secara jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian, dan  patokan : Kurikulum/silabi.àinterpretasi hasil penilaian.
2. Penilaian hasil belajar menjadi bagian integral dalam proses belajar mengajar.
3. Agar hasil penilaian obyektif, gunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif.
4. Hasilnya hendaknya diikuti tindak lanjut.
Prinsip lain yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto adalah:
1. Penilaian hendaknya didasarkan pada hasil pengukuran yang komprehensif.
2. Harus dibedakan antara penskoran (scoring) dengan penilaian (grading)
3. Hendaknya disadari betul tujuan penggunaan pendekatan penilaian (PAP dan PAN)
4. Penilaian hendaknya merupakan bagian integral dalam proses belajar mengajar.
5. Penilaian harus bersifat komparabel.
6. Sistem penilaian yang digunakan hendaknya jelas bagi siswa dan guru.

G. Pendekatan Evaluasi
Ada dua jenis pendekatan penilaian yang dapat digunakan untuk menafsirkan sekor menjadi nilai. Kedua pendekatan ini memiliki tujuan, proses, standar dan juga akan menghasilkan nilai yang berbeda. Karena itulah pemilihan dengan tepat pendekatan yang akan digunakan menjadi penting. Kedua pendekatan itu adalah Pendekatan Acuan Norma (PAN) dan Pendekatan Acuan Patokan (PAP).
Sejalan dengan uraian di atas, Glaser (1963) yang dikutip oleh W. James Popham menyatakan bahwa terdapat dua strategi pengukuran yang mengarah pada dua perbedaan tujuan substansial, yaitu pengukuran acuan norma (NRM) yang berusaha menetapkan status relatif, dan pengukuran acuan kriteria (CRM) yang berusaha menetapkan status absolut. Sejalan dengan pendapat Glaser, Wiersma menyatakan norm-referenced interpretation is a relative interpretation based on an individual’s position with respect to some group. Glaser menggunakan konsep pengukuran acuan norma (Norm Reference Measurement / NRM) untuk menggambarkan tes prestasi siswa dengan menekankan pada tingkat ketajaman suatu pemahaman relatif siswa. Sedangkan untuk mengukur tes yang mengidentifikasi ketuntasan / ketidaktuntasan absolut siswa atas perilaku spesifik, menggunakan konsep pengukuran acuan kriteria (Criterion Reference Measurement).
1. Penilaian Acuan Patokan (PAP), Criterion Reference Test (CRT)
Tujuan penggunaan tes acuan patokan berfokus pada kelompok perilaku siswa yang khusus. Joesmani menyebutnya dengan didasarkan pada kriteria atau standard khusus. Dimaksudkan untuk mendapat gambaran yang jelas tentang performan peserta tes dengan tanpa memperhatikan bagaimana performan tersebut dibandingkan dengan performan yang lain. Dengan kata lain tes acuan kriteria digunakan untuk menyeleksi (secara pasti) status individual berkenaan dengan (mengenai) domain perilaku yang ditetapkan / dirumuskan dengan baik.
Pada pendekatan acuan patokan, standar performan yang digunakan adalah standar absolut. Semiawan menyebutnya sebagai standar mutu yang mutlak. Criterion-referenced interpretation is an absolut rather than relative interpetation, referenced to a defined body of learner behaviors. Dalam standar ini penentuan tingkatan (grade) didasarkan pada skor-skor yang telah ditetapkan sebelumnya dalam bentuk persentase. Untuk mendapatkan nilai A atau B, seorang siswa harus mendapatkan skor tertentu sesuai dengan batas yang telah ditetapkan tanpa terpengaruh oleh performan (skor) yang diperoleh siswa lain dalam kelasnya. Salah satu kelemahan dalam menggunakan standar absolut adalah skor siswa bergantung pada tingkat kesulitan tes yang mereka terima. Artinya apabila tes yang diterima siswa mudah akan sangat mungkin para siswa mendapatkan nilai A atau B, dan sebaliknya apabila tes tersebut terlalu sulit untuk diselesaikan, maka kemungkinan untuk mendapat nilai A atau B menjadi sangat kecil. Namun kelemahan ini dapat diatasi dengan memperhatikan secara ketat tujuan yang akan diukur tingkat pencapaiannya.
Dalam menginterpretasi skor mentah menjadi nilai dengan menggunakan pendekatan PAP, maka terlebih dahulu ditentukan kriteria kelulusan dengan batas-batas nilai kelulusan. Umumnya kriteria nilai yang digunakan dalam bentuk rentang skor berikut:
Rentang Skor Nilai: 80% s.d. 100% A, 70% s.d. 79% B, 60% s.d. 69% C, 45% s.d. 59% D, < 44% E / Tidak lulus
2. Penilaian Acuan Norma (PAN), Norm Reference Test (NRT)
Tujuan penggunaan tes acuan norma biasanya lebih umum dan komprehensif dan meliputi suatu bidang isi dan tugas belajar yang besar. Tes acuan norma dimaksudkan untuk mengetahui status peserta tes dalam hubungannya dengan performans kelompok peserta yang lain yang telah mengikuti tes. Tes acuan kriteria Perbedaan lain yang mendasar antara pendekatan acuan norma dan pendekatan acuan patokan adalah pada standar performan yang digunakan.
Pada pendekatan acuan norma standar performan yang digunakan bersifat relatif. Artinya tingkat performan seorang siswa ditetapkan berdasarkan pada posisi relatif dalam kelompoknya; Tinggi rendahnya performan seorang siswa sangat bergantung pada kondisi performan kelompoknya. Dengan kata lain standar pengukuran yang digunakan ialah norma kelompok. Salah satu keuntungan dari standar relatif ini adalah penempatan skor (performan) siswa dilakukan tanpa memandang kesulitan suatu tes secara teliti. Kekurangan dari penggunaan standar relatif diantaranya adalah (1) dianggap tidak adil, karena bagi mereka yang berada di kelas yang memiliki skor yang tinggi, harus berusaha mendapatkan skor yang lebih tinggi untuk mendapatkan nilai A atau B. Situasi seperti ini menjadi baik bagi motivasi beberapa siswa. (2) standar relatif membuat terjadinya persaingan yang kurang sehat diantara para siswa, karena pada saat seorang atau sekelompok siswa mendapat nilai A akan mengurangi kesempatan pada yang lain untuk mendapatkannya.
Contoh:
7. Satu kelompok peserta tes terdiri dari 9 orang mendapat skor mentah:
50, 45, 45, 40, 40, 40, 35, 35, 30
Dengan menggunakan pendekatan PAN, maka peserta tes yang mendapat skor tertinggi (50) akan mendapat nilai tertinggi, misalnya 10, sedangkan mereka yang mendapat skor di bawahnya akan mendapat nilai secara proporsional, yaitu 9, 9, 8, 8, 8, 7, 7, 6
Penentuan nilai dengan skor di atas dapat juga dihitung terlebih dahulu persentase jawaban benar. Kemudian kepada persentase tertinggi diberikan nilai tertinggi.
8. Sekelompok mahasiswa terdiri dari 40 orang dalam satu ujian mendapat nilai mentah sebagai berikut:
55 43 39 38 37 35 34 32
52 43 40 37 36 35 34 30
49 43 40 37 36 35 34 28
48 42 40 37 35 34 33 22
46 39 38 37 36 34 32 21
Penyebaran skor tersebut dapat ditulis sebagai berikut:
No Skor Mentah Jumlah Mahasiswa Jika 55 diberi nilai 10 maka
(1 55 1 10,0); (2 52 1 9,5); (3 49 1 9,0); (4 48 1 8,7); (5 46 1 8,4); (6 43 3 7,8); (7 42 1 7,6); (8 40 3 7,3); (9 39 2 7,1); (10 38 2 6,9); (11 37 5 6,7);
(12 36 4 6,5); (13 35 3 6,4); (14 34 4 6,2); (15 33 2 6,0); (16 32 2 5,8); (17 30 1 5,5); (18 28 1 5,1); (19 22 1 4,0); (20 21 1 3,8)
Jumlah Mahasiswa 40
Jika skor mentah yang paling tinggi (55) diberi nilai 10 maka nilai untuk :
52 adalah (52/55) x 10 = 9,5
49 adalah (49/55) x 10 = 9,0 dan seterusnya
9. Bila jumlah pesertanya ratusan, maka untuk memberi nilainya menggunakan statistik sederhana untuk menentukan besarnya skor rata-rata kelompok dan simpangan baku kelompok (mean dan standard deviation) sehingga akan terjadi penyebaran kemampuan menurut kurva normal.
Menurut distribusi kurva normal, sekelompok mahasiswa yang memiliki skor di atas rata-rata 60 dalam kelompok itu adalah:
60 sampai dengan (60 + 2 S.B.) adalah 34,13%
(60 + 1 S.B.) sampai dengan (60 + 2 S.B.) adalah 13,59%
(60 + 2 S.B.) sampai dengan (60 + 3 S.B.) adalah 2,14%
Begitu juga dengan mahasiswa yang memiliki skor 60 ke bawah, adalah:
60 sampai dengan (60 – 2 S.B.) adalah 34,13%
(60 – 1 S.B.) sampai dengan (60 – 2 S.B.) adalah 13,59%
(60 – 2 S.B.) sampai dengan (60 – 3 S.B.) adalah 2,14%
Dengan kata lain mahasiswa yang mendapat skor antara (+1 S.B. s.d. -1 S.B.) adalah 68,26%, yang mendapat skor (+2 S.B. s.d. -2 S.B.) adalah 95,44%.
Dengan demikian dapat dibuat tabel konversi skor mentah ke dalam nilai 1-10.
Skor Mentah Nilai 1 – 10
Skor rata-rata +2,25 S.B. 10
Skor rata-rata +1,75 S.B. 9
Skor rata-rata +1,25 S.B. 8
Skor rata-rata +0,75 S.B. 7
Skor rata-rata +0,25 S.B. 6
Skor rata-rata -0,25 S.B. 5
Skor rata-rata -0,75 S.B. 4
Skor rata-rata -1,25 S.B. 3
Skor rata-rata -1,75 S.B. 2
Skor rata-rata -2,25 S.B. 1

(http://blogs.unpad.ac.id/smanraja/?p=3)

Kedua pendekatan di atas, masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Penggunaan evaluasi acuan norma memberikan peluang kepada siswa untuk berhasil, namun sebaliknya dapat menimbulkan dampak yang negatif, karena siswa dipersaingkan di dalam kelompoknya. Siswa yang memang lemah kemampuanyya, akan selalu berada di posisi yang rendah dan tidak pernah mengalami sukses.

(http://www.ipp.uns.ac.id/web/modle/moodledata/31/bab1-HTML.htm)

Measure


A standard of dimension; a fixed unit of quantity or extent; an extent or quantity in the fractions or multiples of which anything is estimated and stated; hence, a rule by which anything is adjusted or judged.


An instrument by means of which size or quantity is measured, as a graduated line, rod, vessel, or the like.


The dimensions or capacity of anything, reckoned according to some standard; size or extent, determined and stated; estimated extent; as, to take one’s measure for a coat.


The contents of a vessel by which quantity is measured; a quantity determined by a standard; a stated or limited quantity or amount.


Extent or degree not excessive or beyong bounds; moderation; due restraint; esp. in the phrases, in measure; with measure; without or beyond measure.


Determined extent, not to be exceeded; limit; allotted share, as of action, influence, ability, or the like; due proportion.


The quantity determined by measuring, especially in buying and selling; as, to give good or full measure.


Undefined quantity; extent; degree.


Regulated division of movement


A regulated movement corresponding to the time in which the accompanying music is performed; but, especially, a slow and stately dance, like the minuet.


The group or grouping of beats, caused by the regular recurrence of accented beats.


The space between two bars.


The manner of ordering and combining the quantities, or long and short syllables; meter; rhythm; hence, a foot; as, a poem in iambic measure.


A number which is contained in a given number a number of times without a remainder; as in the phrases, the common measure, the greatest common measure, etc., of two or more numbers.


A step or definite part of a progressive course or policy; a means to an end; an act designed for the accomplishment of an object; as, political measures; prudent measures; an inefficient measure.


The act of measuring; measurement.


Beds or strata; as, coal measures; lead measures.


To ascertain by use of a measuring instrument; to compute or ascertain the extent, quantity, dimensions, or capacity of, by a certain rule or standard; to take the dimensions of; hence, to estimate; to judge of; to value; to appraise.


To serve as the measure of; as, the thermometer measures changes of temperature.


To pass throught or over in journeying, as if laying off and determining the distance.


To adjust by a rule or standard.


To allot or distribute by measure; to set off or apart by measure; — often with out or off.


To make a measurement or measurements.


To result, or turn out, on measuring; as, the grain measures well; the pieces measure unequally.


To be of a certain size or quantity, or to have a certain length, breadth, or thickness, or a certain capacity according to a standard measure; as, cloth measures three fourths of a yard; a tree measures three feet in diameter.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s